Jejak Peradaban Purba di Situs Megalitikum Gunung Padang Cianjur

Jejak Peradaban Purba di Situs Megalitikum Gunung Padang Cianjur

Situs Megalitikum Gunung Padang Cianjur (foto: Wikipedia)

Situs Megalitikum Gunung Padang merupakan salah satu warisan prasejarah paling monumental di Asia Tenggara. Lokasinya berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Situs ini berdiri di puncak perbukitan pada ketinggian sekitar 885 meter di atas permukaan laut, menyuguhkan lanskap alam yang luas dan menenangkan.

Gunung Padang dikenal luas karena struktur batu andesit berbentuk balok yang tersusun rapi membentuk teras-teras berundak. Susunan ini diyakini sebagai pusat kegiatan budaya, ritual, dan spiritual masyarakat megalitikum ribuan tahun lalu. Selain menjadi objek kajian ilmiah yang penting, Gunung Padang juga berkembang sebagai destinasi wisata sejarah, edukasi, astronomi, hingga wisata spiritual yang menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.

Asal-usul Nama Gunung Padang

Secara etimologis, kata padang dalam bahasa Sunda berarti terang atau bercahaya. Penafsiran lain menyebutkan bahwa kata ini berasal dari gabungan pa (tempat), da (besar atau agung), dan hyang (leluhur). Jika dirangkai, maknanya menjadi “tempat agung para leluhur”.

Keunikan nama ini selaras dengan kondisi alamnya. Pada malam hari, terutama saat cuaca cerah, bagian puncak Gunung Padang tampak terang dan jelas terlihat, bahkan ketika waktu menunjukkan dini hari. Fenomena ini memperkuat anggapan bahwa lokasi tersebut sejak lama dianggap sakral.

Para Peneliti yang Terlibat dalam Kajian Gunung Padang

Penelitian Gunung Padang melibatkan banyak ahli dari berbagai disiplin ilmu, baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa tokoh penting yang terlibat antara lain:

  • Dr. Ali Akbar, arkeolog Indonesia dan dosen Departemen Arkeologi FIB Universitas Indonesia, aktif dalam organisasi arkeologi internasional dan nasional.

  • Danny Hilman Natawidjaja, seismolog LIPI yang mendukung hipotesis Gunung Padang sebagai bangunan purba berstruktur piramida.

  • Sutikno Bronto, arkeolog senior Kementerian ESDM, bersama Billy S. Langi, melakukan kajian geologi Gunung Padang.

  • Ari Sukendar, Bintarti, dan Junus Satrio Atmodjo dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang meneliti situs ini sejak era 1980-an.

  • Nicolaas J. Krom, arkeolog Belanda yang pertama kali mendokumentasikan Gunung Padang secara ilmiah pada 1914.

  • Peneliti lain seperti Tatang Mulyana Sinaga, Evy Rachmawati, Hibar Himawan, serta Semir Sam Osmanagich dari Bosnia Herzegovina juga turut berkontribusi dalam diskusi dan penelitian lanjutan.

Perjalanan Penelitian Gunung Padang dari Masa ke Masa

1. Masa Kerajaan Sunda (1482–1521)

Pada era pemerintahan Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja, Kerajaan Sunda-Galuh telah memberi perhatian khusus terhadap punden berundak yang kini dikenal sebagai Gunung Padang. Sebuah tim khusus dibentuk dengan melibatkan Ki Prana Makti untuk menelusuri situs tersebut.

Pada masa itu, Gunung Padang dikenal dengan nama Hyang Pamujangan, yang berarti tempat pemujaan penguasa alam. Situs ini dianggap suci dan menjadi lokasi pertemuan para raja Pasundan. Kerajaan meyakini bahwa bangunan tersebut telah berusia sekitar 4.000 tahun. Kerusakan akibat gempa diyakini pernah terjadi, sehingga masyarakat diminta menetap di sekitar lokasi untuk menjaga kelestariannya.

2. Zaman Kolonial Belanda (1890–1914)

Penelitian ilmiah kembali dilakukan pada akhir abad ke-19 oleh Rogier Verbeek dan De Corte, kemudian dilanjutkan oleh N.J. Krom pada 1914. Krom mencatat keberadaan teras-teras batu di puncak bukit yang dihiasi batu andesit dan batu runcing.

Temuan tersebut dimuat dalam laporan resmi Rapporten Oudheidkundige Dienst tahun 1914–1915, yang menjadi referensi penting dalam kajian arkeologi Hindia Belanda.

3. Penelitian Pusat Arkeologi Nasional (1979–1984)

Pada 1979, warga setempat menemukan kembali susunan batu besar di area semak belukar. Temuan ini dilaporkan ke pemerintah daerah dan ditindaklanjuti oleh Direktorat Sejarah dan Purbakala. Ekskavasi dilakukan di beberapa teras oleh tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Rencana pemugaran besar pada 1987 sempat disusun, namun terhenti akibat perubahan struktur kelembagaan di kementerian terkait.

4. Tim Bencana Katastropik Purba (2011–2012)

Tim yang dibentuk Kantor Staf Presiden melakukan penelitian menggunakan teknologi modern seperti citra satelit, georadar, geoelektrik, pengeboran, dan analisis karbon. Hasilnya menunjukkan adanya lapisan pasir peredam gempa, struktur andesit dalam, serta temuan karbon berusia ribuan hingga belasan ribu tahun sebelum masehi.

5. Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang (2012–2013)

Penelitian lanjutan menemukan batuan columnar joint yang secara alami seharusnya vertikal, namun ditemukan dalam posisi horizontal. Hal ini mengindikasikan adanya rekayasa manusia.

Uji karbon di laboratorium internasional menunjukkan usia yang jauh lebih tua, bahkan mencapai 25.000 SM. Tim menyimpulkan luas bangunan mencapai 15 hektare, dengan ukuran yang jauh melampaui Candi Borobudur, sehingga diduga sebagai bangunan prasejarah terbesar di dunia.

6. Kajian Geologi oleh Sutikno Bronto (2015)

Fokus penelitian beralih ke aspek geologi. Hasil studi menyebutkan bahwa Gunung Padang merupakan bagian dari gunung api purba Karyamukti yang terbentuk jutaan tahun lalu. Struktur breksi vulkanik, intrusi lava, dan batuan ubahan menjadi bukti aktivitas geologi kompleks yang membentuk kawasan ini.

Dibaca: 1287 kali
1.3K

Naskah Sunda Kuno Sang Hyang Siksa Kandang Karesian Resmi Diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia

1.3K

Kebijakan Penutupan Tambang Parung Panjang Bogor Oleh KDM

1.3K

Okiagaru Farm Cianjur: Sentra Sayuran Jepang Organik dan Inkubator Petani Muda