Naskah Sunda Kuno Sang Hyang Siksa Kandang Karesian Resmi Diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia

Naskah Sunda Kuno Sang Hyang Siksa Kandang Karesian Resmi Diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia

Naskah Sunda Kuno Sang Hyang Siksa Kandang Karesian Resmi Diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia

Salah satu peninggalan literasi berharga dari tanah Sunda, naskah kuno berjudul Sang Hyang Siksa Kandang Karesian, kini memperoleh pengakuan internasional setelah masuk dalam daftar perlindungan UNESCO. Manuskrip ini memuat ajaran komprehensif tentang tatanan sosial, nilai budaya, pandangan politik, hingga tuntunan spiritual yang mencerminkan cara pandang masyarakat Sunda pada masa silam.

Penetapan naskah ini dilakukan melalui program Memory of the World, sebuah inisiatif UNESCO yang bertujuan menjaga dan melestarikan dokumen-dokumen penting dunia agar tetap dapat diakses lintas generasi. Keberhasilan pengakuan tersebut merupakan hasil kerja bersama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Arsip Nasional Republik Indonesia, serta Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO yang berperan aktif dalam proses pengajuan dan verifikasi.

Kepala Perpusnas, Prof. Aminudin Aziz, menyampaikan bahwa pencapaian ini menjadi bukti nyata keseriusan Indonesia dalam merawat kekayaan intelektual bangsa. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antarlembaga budaya dan pemerintah menjadi kunci penting dalam menjaga warisan dokumenter Nusantara.

Menurut Aziz, naskah-naskah klasik Indonesia kini semakin mendapat tempat di mata dunia internasional. Hal ini membuka peluang bagi masyarakat global untuk mempelajari dan memanfaatkan khazanah pengetahuan yang tersimpan dalam manuskrip kuno tersebut, sekaligus menegaskan pentingnya pelestarian naskah Sunda sebagai bagian dari warisan peradaban.

Penjelasan lebih mendalam disampaikan oleh Pustakawan Ahli Muda Perpusnas, Aditia Gunawan. Ia mengungkapkan bahwa Siksa Kandang Karesian memiliki sejumlah keunikan yang menjadikannya sangat langka. Dari sisi material, naskah ini ditulis pada daun gebang atau palem, media tulis yang sangat jarang digunakan dan hanya ditemukan pada puluhan naskah kuno di dunia.

Keistimewaan lain terletak pada penggunaan aksara Buda dan aksara Sunda kuno, dengan bahasa yang kini sudah tidak dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadikan naskah tersebut sangat bernilai bagi kajian filologi dan sejarah bahasa. Selain itu, keberadaan titimangsa atau penanda waktu penulisan menjadikan manuskrip ini satu-satunya naskah Sunda lama yang memiliki informasi kronologis yang jelas.

Dari segi isi, naskah ini terdiri atas 24 bagian yang membahas beragam aspek kehidupan, mulai dari norma sosial, etika, hukum, ajaran spiritual, hingga tata pemerintahan masyarakat Sunda abad ke-15. Aditia menyebut karya ini layak dipandang sebagai ensiklopedia masyarakat Sunda kuno karena cakupan pembahasannya yang luas dan mendalam.

Ditulis pada masa sebelum pengaruh Islam masuk, Sang Hyang Siksa Kandang Karesian menyimpan gambaran utuh pemikiran dan nilai-nilai lama masyarakat Sunda. Oleh karena itu, pengakuan UNESCO tidak hanya menjadi kebanggaan daerah atau nasional, tetapi juga menegaskan bahwa nilai-nilai di dalamnya merupakan bagian dari warisan kemanusiaan universal.

Secara umum, Sang Hyang Siksa Kandang Karesian merupakan naskah prosa didaktis yang berfungsi sebagai pedoman hidup. Isinya mencakup ajaran moral, pengetahuan ensiklopedis, tuntunan spiritual, serta aturan etika dan hukum. Seluruh ajaran tersebut ditujukan untuk membimbing manusia agar hidup selaras, bijaksana, dan sejahtera berdasarkan prinsip darma dalam kehidupan bermasyarakat.

Dibaca: 1296 kali
1.3K

Jejak Peradaban Purba di Situs Megalitikum Gunung Padang Cianjur

1.3K

Kebijakan Penutupan Tambang Parung Panjang Bogor Oleh KDM

1.3K

Okiagaru Farm Cianjur: Sentra Sayuran Jepang Organik dan Inkubator Petani Muda